KASIHAN BANGSA INI by: KHALIL GIBRAN
July 5, 2011
Saat-saat sekarang, puisi penyair Lebabon di bawa ini
penting untuk kita renungkan
Kasihan bangsa
memakai pakaian yang tidak ditenunnya,
memakan roti dari gandum yang tidak dituainya
dan meminum anggur yang tidak diperasnya
Kasihan bangsa
menjadikan orang bodoh menjadi pahlawan,
dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.
Kasihan bangsa
meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur,
sementara menyerah padanya ketika bangun.
Kasihan bangsa
tidak pernah angkat suara
kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan,
tidak sesumbar
kecuali di reruntuhan,
dan tidak memberontak
kecuali ketika lehernya sudah berada di antara pedang dan landasan.
Kasihan bangsa
negarawannya serigala,
yang falsafahnya gentong nasi,
senimannya tukang tambal
dan tukang tiru.
Kasihan bangsa
menyambut penguasa barunya
dengan trompet kehormatan
namun melepasnya dengan cacian,
dan kembali menyambut penguasa baru lain
dengan trompet lagi.
Kasihan bangsa
orang sucinya dungu menghitung tahun-tahun berlalu
orang kuatnya masih dalam gendongan.
Kasihan bangsa
berpecah-belah,
masing-masing mengangap diri sebagai satu bangsa.
penting untuk kita renungkan
Kasihan bangsa
memakai pakaian yang tidak ditenunnya,
memakan roti dari gandum yang tidak dituainya
dan meminum anggur yang tidak diperasnya
Kasihan bangsa
menjadikan orang bodoh menjadi pahlawan,
dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.
Kasihan bangsa
meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur,
sementara menyerah padanya ketika bangun.
Kasihan bangsa
tidak pernah angkat suara
kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan,
tidak sesumbar
kecuali di reruntuhan,
dan tidak memberontak
kecuali ketika lehernya sudah berada di antara pedang dan landasan.
Kasihan bangsa
negarawannya serigala,
yang falsafahnya gentong nasi,
senimannya tukang tambal
dan tukang tiru.
Kasihan bangsa
menyambut penguasa barunya
dengan trompet kehormatan
namun melepasnya dengan cacian,
dan kembali menyambut penguasa baru lain
dengan trompet lagi.
Kasihan bangsa
orang sucinya dungu menghitung tahun-tahun berlalu
orang kuatnya masih dalam gendongan.
Kasihan bangsa
berpecah-belah,
masing-masing mengangap diri sebagai satu bangsa.
Posted by Ratna Sarumpaet. Posted In : Human Rights
