• slide1.jpg
  • slide2.jpg
  • slide3.jpg
  • slide4.jpg
  • slide5.jpg
  • slide6.jpg
  • slide7.jpg
  • slide8.jpg
  • slide9.jpg
  • slide10.jpg
  • slide11.jpg
  • slide12.jpg
Watak Rezim SBY :

TUKANG PERAS - PELIT SUBSIDI !

By:  Salamuddin Daeng
AEPI Jakarta
Presidium Nasional MKRI

Tiap hari yang dilakukan Rezim SBY adalah menumpuk dana APBN, untuk memperkaya Pemerintahan yang korup dan DPR penghianat. Salah satu kebijakan menjadikan rakyat sebagai sapi perahan adalah kebijakan menaikkan CUKAI TEMBAKAU.

Baru baru ini pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 78/PMK.011/2013 tentang Penetapan Golongan dan Tarif Cukai Hasil Tembakau terhadap Pengusaha Pabrik Hasil Tembakau yang Memiliki Hubungan keterkaitan.

Peraturan ini merevisi PMK 191/PMK.04/2010 tentang Perubahan atas  Peraturan Menteri Keuangan Nomor 200/PMK.04/2008 ttg Tata Cara Pemberian, Pembekuan, dan Pencabutan Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai Untuk Pengusaha Pabrik dan Importir Hasil Tembakau.

Peraturan diatas tujuan utamanya menaikkan cukai tembakau yang mengarah kepada "single tarif" antara perusahaan kecil dengan perusahaan besar pada tingkat tarif tertinggi.

Hasilnya pada APBN Perubahan 2011, realisasi penerimaan cukai mencapai Rp 77 triliun. Pada APBN-P 2012, realisasi penerimaan cukai mencapai Rp 95 triliun. Selanjutnya tahun 2013 cukai tembakau ditargetkan mecapai Rp. 100 triliun.

Naiknya cukai menyebabkan perusahaan nasional, khususnya usaha kecil dan menengah ambruk. Data Kementerian Perindustrian menyebutkan, jumlah perusahaan rokok di Indonesia tahun 2007 mencapai 5.000 unit, kemudian turun menjadi 1.500 unit di 2010, kembali turun 17 % tahun 2012 menjadi 1.000 unit.

Begitulah kelakuan rezim SBY.  Seperti tukang peras, mereka memeras uang rakyat namun pedit dalam memberikan subsidi BBM dan terus menekan subsidi pertanian. Padahal kedua subsidi ini menentukan hidup matinya petani dan industri tembakau. Kelakukan Rezim SBY jelas membuat rakyat khususnya buruh dan petani semakin miskin sementara penguasa bergelimang harta dan rakyat bergelimang air mata.

Sekarang, semua tergantung kita. Apakah kita akan membiarkan negeri ini ambruk di tangan Rezim Tukang Peras Yudhoyono-Budiono? Atau kita bersatu, bertindak dengan penuh determinasi, menurunkannya, lalu membenahi hangsa ini melalui Pemerintahan Transisi? Semua tergantung kita.

Share |
Powered By : Yoriz Media.