Aceh Konflik

Print PDF

Aceh…
(Dari tujuh hari mengunjungi pusat Konflik)

KEGELAPAN INFORMASI
Mengikuti konsisten perkembangan di Aceh tahun-tahun terakhir terutama sejak pemerintahan Megawati. Melihat perbedaan sangat mencolok antara Pernyataan resmi Pemerintah melalui Media Massa dengan apa yang kita terima melalui internet, SMS / hubungan langsung  telepon Jakarta Aceh. Tidak dapat dipungkiri lahirnya keraguan dan syak yang sangat mengganggu, “ Apakah Pemerintah masih menghormati hak Rakyat untuk memperoleh informasi yang sejujurnya tentang apa yang terjadi di Aceh? Apakah hak/ kebebasan Pers masih utuh, seutuh ketika kita memperjuangkannya pada masa reformasi?” Kalau kita teliti ada bahkan masa-masa kenyataan di Aceh  tidak terlihat sama sekali dalam  pemberitaan sementara melalui SMS misalnya kita tahu korban kekerasan nyaris tidak pernah sungguh-sungguh berhenti  di Aceh, dan rakyat berhak mengetahuinya ----

Upaya menempuh jalan damai melalui meja perundingan bulan-bulan terakhir  membuka kembali percakapan tentang Aceh. Membukanya percakapan ini dengan semangat menempuh jalan damai yang sedang dirintis harusnya memberi kita harapan. Tetapi langkah, upaya dan statement Pemerintah yang muncul ke permukaan masih saja menanam keraguan di hati saya. Apa yang terus didengungkan Pemerintah bahwa “Aceh berangsur kondusif, Pengungsi sudah tidak ada, GAM semakin terkepung dan melemah” bertolak belakang dengan kenyataan dilapangan yang beritanya saya peroleh langsung dari lapangan.

Kekhawatiran yang mengepung perasaan dan pikiran saya oleh kenyataan2 diatas tidak semata atas nasib masyarakat Aceh. Nasib demokrasi seluruh bangsa yang diperjuangkan di masa reformasi dengan mengorbankan begitu banyak hal,  merupakan bagian utama dari kekhawatiran saya. Dan ketika awal November 2002  pengepungan di Aceh Utara dimulai tanpa alasan yang bisa diterima logika saya,  saya tidak punya pilihan lain kecuali mengunjungi Aceh, langsung ke pusat-pusat konflik.

Hanya Tuhan yang tahu betapa perasaan saya dibelenggu kecemasan. Tapi ditemani tiga orang awak Satu Merah Panggung, Selasa,  26 November 2002, saya akhirnya meninggalakan Jakarta. Terimakasih pada para donatur Jakarta, hingga kami bisa mengunjungi Aceh dengan membawa bantuan lebaran, obat-obatan dan peralatan ibadah. Dan jujur harus saya akui, disamping bantuan kemanusiaan yang kami bawa, focus utama kunjungan saya ke Aceh adalah mencari kebenaran. Saya ingin menyaksikan langsung apa yang sesungguhnya terjadi.  Saya  ingin berada ditengah masyarakat yang terjebak di wilayah-wilayah konflik. Berbicara dengan mereka dan mendengar langsung keluhan-keluhan mereka dari hati kehati.  

ELITE GAM
Mengingat wilayah yang saya tuju adalah wilayah – konflik atau ‘Wilayah GAM’, meminta izin pada pihak GAM menjadi penting karena dengan begitu dalam perjalanan saya ke wilayak konfilk, saya tidak lagi harus mengkhawatirkan dua pihak yang bertikai. Untuk itu, di Banda Aceh kami  menemui Tk Ponman, Tk Amni dan Tk Admi , tiga tokoh GAM yang sementara menjadi tahanan rumah di Hotel Kuala Tripa, sekaligus menjadi juru runding pihak GAM dalam proses penandatanganan kesepakatan damai di Jeneva. Melihat dengan jernih kedatangan saya mengunjungi wilayah-wilayah konflik di Aceh semata tujuan kemanusiaan, mereka menyambut kedatangan saya  dengan baik. Percakapan kami yang berlangsung sekitar satu jam berlangsung hati-hati betul. Dengan hati-hati saya menekankan pentingnya kesungguhan semua pihak (termasuk GAM) menyepakati perdamaian. Dengan hati-hati pula mereka menggambarkan betapa dari beberapa indikasi merekalah  justru yang masih meragukan ketulusan RI mencapai kesepakatan damai. Tidak ada kesan, apalagi terucap kekukuhan untuk melepaskan diri dari RI. Percakapan tentang bangsa, masyarakat terjaga betul dalam konteks Indonesia. 

LSM & BANTUAN KEMANUSIAAN
Hari pertama di Banda Aceh, kami melakukan kunjungan ke beberapa  Organisasi. yang melakukan program2 kemanusiaan.

PEMRAKA
Di sebuah rumah sederhana, yang juga menjadi secretariat PEMRAKA, kami bertemu  25 orang korban kekerasan TNI. Ini konsentrasi kegiatan Organisasi (Mahasiswa) ini. Menampung dan membantu perawatan, fisik, psyhis korban kekerasan yang terjadi sejak dari tahun 2001-2002. Beberapa alasan yang membuat PEMRAKA memilih kegiatan serupa adalah :
1.    Tidak adanya penanganan secara khusus oleh Pemerintah terhadap nasib korban- korban di Kamp – kamp pengungsian yang tersebar dihampir setiap wilayah- wilayah yang dekat dengan konflik.
2.    Beberapa kasus yang serupa menimpa korban adalah begitu sulitnya mendapatkan pertolongan untuk luka yang dideritanya yang pada akhirnya membuat luka itu membusuk dan tak jarang merenggut nyawa si korban itu sendiri.
3.    Warga yang mengalami penganiayaan aparat TNI umumnya atas tuduhan mereka  terlibat gerakan pemberontak ( GAM ). Dari beberapa kejadian, korban yang mencoba mencari bantuan ke Rumah Sakit, hilang/diculik, karena dikhawatirkan akan memberikan kesaksian. 

KENDALA.
1.    Obat – obatan yang tidak tersedia di Apotik & mahalnya harga obat.
2.    Penyediaan PEN ( penunjang besi) untuk tulang remuk / patah. Karena harga sebuah PEN sangat mahal per- unitnya.
3.    Makanan tidak memenuhi standar gizi, terutama bagi anak- anak dan  manula.
4.    Kenadala KHUSUS / Urgent. Rumah kontrakan yang digunakan PEMRAKA sebagai secretariat / menampung korban, berakhir bulan ini. Untuk itu, mereka sangat mengharapkan bantuan untuk bisa melanjutkan kerja mereka.


RAEHAN
Raehan adalah seorang aktivis yang sekarang ditahan di LP. Keudah Banda Aceh. Dia Mahasiswi di Univ. UNSYAH KUALA semester 5 jurusan HUKUM. Raehan ditangkap Aparat saat melakukan Aksi memprotes Pemerintahan Megawati dan Hamzah Haz. Tuntutan Aksi, memprotes Kinerja Pemerintah / Megawati dalam memperhatikan situasi dan kondisi di Aceh, baik di Bid. Keamanan, Keadilan dan kesejahteraan terutama bagi Rakyat miskin. Kasus yang dituduhkan kepadanya adalah, penghinaan terhadap Kepasla Negara karena mencoret Foto Megawati – Hamzah Haz, dengan cat semprot berwarna merah. Didalam Aksi saat itu dia menjabat sebagai Kor-Lap dan penanggung Jawab Aksi. Ia bersedia bertanggung jawab untuk semua perbuatan yang dia lakukan dengan sadar dia lakukan kalau itu memang salah dimata Hukum. Tapi hukum yang mana ?  Dia balik bertanya -----

SIRA
SIRA adalah LSM yang dulu menggagas dan mewujudkan Referendum Aceh yang heboh itu, dan sampai hari ini masih percaya, Referendum adalah cara yang harus dipakai untuk  mengetahui apa sesungguhnya yang diinginkan Rakyat Aceh. Pernyataan SIRA senada dengan apa yang di katakan Raihan sebelumnya, kesenjangan sosial yang semakin parah, rasa aman yang semakin tipis, penculikan para aktifis / relawan kemanusiaan yang makin marak, serta rekayasa meniadakan eksistensi Pengungsi untuk mendukung pernyataan pemerintah “Aceh Kondusif, pengungsi tidak ada”

COT TRIENG – ACEH UTARA

Dari pemberitaan dan wawancara-wawancara tentang pengepungan Cot Trieng, bayangan saya sebelum menuju Aceh Utara adalah menakutkan. Serius dan berbahayanya pengepungan atas kaum pemberontak GAM yang bersembunyi di balik bukit di desa Cot Trieng ini pastikah penuh ketegangan. Tapi apa yang saya saksikan bertolak belakang sama sekali.  Di sekitar Lhoksmawe, sebelum memasuki wilayah pengepungan yang terlihat adalah pameran kekuatan yang pongah. Teng-teng, truk-truk raksasa berisi tentara berkonvoi di jalan-jalan, entah dari mana,  menuju kemana dan untuk apa? Tentara menenteng senapan dimana-mana. Di pasar-pasar, dijalan, di wilayah perumahan, disekitar rumah-rumah ibadah.  Tidak jelas betul apa yang mereka lakukan dan tidak sedikitpun memberikan kesan mereka sedang melakukan tugas professional mereka. Di depan puluhan pos (acak) tepi jalan kami menyaksikan teng terparkir menghadap jalan raya. Seorang  tentara berdiri dalam posisi bersiap di puncaknya, sambil memanggul senapan dengan moncong senapan mengarah keatas. Untuk apa, juga tidak jelas ……

Memasuki  wilayah pengepungan kami melewati   rumah-rumah yang jauh dari kehidupan. Di wilayah pengepungan sendiri di rumah-rumah yang ada, sebagian rumah dipakai sebagai pos penjagaan. Disini kehidupan rutin tidak terlihat, kecuali beberapa warung yang tetap buka serta kesibukan pengamanan.

Tidak adanya kehidupan; Pos-pos penjagaan yang  lebih rapat, lebih ketat dan dijaga lebih banyak personil, memang menggambarkan ketegangan luar biasa. Tapi dirawa-rawa yang di Jakarta digambarkan sebagai pusat diberangkatkannya pengepungan, saya tidak melihat tanda-tanda adanya ketegangan serius, kecuali bendera merah putih berkibar dimana-mana serta empat lima orang tentara yang kelihatan berjaga-jaga.  Saya memang tidak paham bagaimana strategi pengepungan harusnya dilakukan. Tapi logika sederhana saya berkeyakinan, dipusat pengepungan seperti itu  sedikitnya 100 dari 1200 personil yang dikerahkan untuk pengepungan GAM di Cot Trieng,  mestinya berjaga-jaga disana sebagai lapisan terahir pasukan pengepung.

Disebuah madrasah kami kemudian bertemu pengungsi (perempuan & anak-anak). Laki-laki mengungsi di Mesjid. Kami tidak bertemu pengungsi laki-laki oleh alasan keamanan mengingat tempat mereka mengungsi diapit pos-pos aparat TNI Polri yang dijaga ketat. Jumlah Pengungsi di Cot Trieng seluruhnya 122 KK.

Sesuai pengakuan mereka, para pengungsi ini adalah  korban pelampiasan  dari frustrasi aparat TNI Polri yang gagal menemukan anggota GAM disaat pengepungan. Dengan berbagai tindak kekerasan mereka dipaksa mencari anggota GAM. Atau dipaksa mengaku mengetahui  dimana GAM bersembunyi. Rumah sebagian mereka digunakan sebagai Pos, dan itu membuat masyarakat risih terutama karena mereka juga memiliki anak-anak gadis. 

Tiga setengah minggu mengungsi sudah cukup parah bagi masyarakat di wilayah mati seperti di Cot Trieng. Meski ladang mereka tidak jauh dari tempat pengungsian, mereka memilih tidak melakukan kegiatan apa-apa karena turun ke ladang bisa dituduh GAM. Belum lagi kematian beberapa warga yang sedang bertani diladang, ketika pesawat udara TNI Polrri memuntahkan pelurunya kearah mereka sudah cukup menjadi trauma.

Tidak ada bantuan dari Pemda. Di awal-awal pengungsian mereka pernah mendapat bantuan dari Koramil. Tapi bantuan itu hanya datang sekali, itupun hanya cukup untuk makan beberapa hari. Meski sangat mereka butuhkan, bantuan obat-obatan dan peralatan ibadah yang kami bawa menjadi terasa kurang sekali karena kami sadar yang paling mereka butuhkan sesungguhnya adalah makanan.

UNIVERSITAS POLITEKNIK LHOKSMAWE
Para pengungsi di Politeknik semula berjumlah 55 KK. Kami tiba disana pada hari sebagian pengungsi (30 KK) telah memberanikan diri meninggalkan Politeknik.  Tidak tahan menghadapi terror yang setiap malam dilancarkan aparat TNI mereka memutuskan mencari rumah saudara atau kerabat masing-masing untuk tempat berlindung sementara,. Bentuk teror yang dilakukan adalah ancaman penyerbuan. Disamping itu, selalu saja ada mayat yang tergeletak di pekarangan Universitas dan itu terjadi hampir setiap hari. Para pengungsi di Politeknik ini berasal dari  …………  Sebab mereka mengungsi …………

Di Politeknik ini kami juga menerima kesaksian dari 4 orang perempuan tentang kematian 4 orang laki-laki yang dibakar hidup-hidup oleh aparat TNI Polri pada ------- pada saat 4 lelaki itu menjaga tambak udang (professi mereka).  Ada trauma dan ketakutan yang luar biasa ketika mereka menceritakan bagaimana suami/anak mereka mereka saksikan hangus hingga tinggal tulang. Dua dari yang memberi kesaksian adalah istri dari dua yang meninggal, dua lainnya adalah Ibu dari dua korban lainnya. 

Dari Universitas Politeknik, setelah istirahat sambil buka puasa, kami langsung menuju Langsa. Perjalanan malam memberi ketegangan tersendiri. Kecepatan kami dengan sendirinya menurun karena di setiap Pos yang terdapat di jarak rata-rata sekali satu kolimeter, kami harus memperlambat kecepatan sampai 5 km / jam, paling tidak untuk  sepanjang 100 sampai 200 meter. Kami tiba di Langsa lewat tengah malam. Menginap di rumah seorang kenalan yang menyediakan lantai kedua Rukonya untuk kami meletakkan badan, istirahat.

BP HAM LANGSA
Tanggal 29 November 2002. Agenda pertama di Langsa adalah bertemu korban kekerasan di BP HAM. Ada 15 kk pengungsi ditampung disini. Mereka adalah korban pelecehan/kekerasan seksual, seperti pemerkosaan yang dilakukan aparat TNI Polri.  Berasal dari kampung yang sama di Langsa,  mereka adalah kaum perempuan yang suaminya diduga GAM. Mereka dipaksa menunjukkan dimana tempat suaminya bersembunyi.  Dalam proses itulah mereka dianiaya. Dua dari mereka mengaku kedalam kemaluannya dimasukkan senter. Bagi mereka keputusan mengungsi / membuat pengaduan ke BP HAM Langsa  adalah keputusan tidak akan pulang (untuk sementara) ke kampung/rumahnya,  karena pulang berarti dihabisi.

LHOK NIBOENG – ACEH TIMUR
Pengungsi yang ada di Kamp ini umumnya berprofesi sebagai petani karet. Mereka berasal dari desa Alue Ie Mirah, Aceh Timur. Awalnya mereka mengungsi di desa pante Bayam. Teror-teror yang dilancarkan aparat TNI Polri membuat mereka beberapa kali berpindah sebelum akhirnya menetap cukup lama (21 bulan) di Lhok Niboeng, dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Mereka berlindung di los-los pasar dekat ke pembuangan sampah. Rata-rata anak-anak terkena penyakit gatal-gatal (bernanah)

Pengungsi yang ada di Kamp ini awalnya berjumlah 115 KK. Tidak tahan, sebagian dari mereka  memutuskan pindah ke kedareh Binjai. Sekarang yang tersisa 79 KK, mayoritas anak- anak dan orang tua.

Tidak ada perhatian Pemerintah / Pemda atas keberadaan mereka. Berulangkali mereka telah mendatangi/menyurati/ meminta bantuan Camat dan Bupati Aceh Timur untuk dipulangkan kedesa masing – masing, hingga saat ini masih belum ditanggapi. Dilain pihak, Pos-pos TNI Polri yang terdapat disekitar Kamp   melarang ketat bantuan masuk ke Kamp mereka. Upaya lain yang mereka lakukan adalah mencari bantuan sampai ke Medan, itupun jarang berhasil.  Sikap umumnya pengungsi putus asa, pesimis dan selalu dibayangi rasa takut. Satu-satunya harapan mereka adalah pulang. Kembali melanjutkan kehidupannya sebagai petani karet tanpa harus merasa takut untuk ditangkap apalagi dibunuh.

DESA GEULEMPONG PAYOENG – ACEH TIMUR
Ada 76 KK pengungsi di wilayah ini, umumnya anak-anak dan manula. Pengungsi di Kamp ini adalah pengungsi yang rumah mereka dibakar aparat TNI Polri pada akhir era Orde Baru.   Pada Era Habibi pemerintah sudah melakukan klarifikasi, dan berjanji akan mengembalikan mereka ke kampung mereka dan mengganti rumah-rumah mereka, setiap rumah 17 Juta Rupiah. Tetapi sampai hari ini janji itu tak kunjung ditepati. Mereka terus menunggu sambil secara alamiah dan bertahap  membangun kehidupan sangat sederhana di wilayah dimana mereka sekarang tinggal, sambil tetap berharap Pemerintah mewujudkan janji memulangkah mereka.

GD GREBAK – ACEH TIMUR.
Wilayah ini diakui sebagai wilayah yang kental GAM. Kami tidak berhasil memasuki wilayah ini karena di pos-pos awal saja pemeriksaan sudah ketat. Petugas melarang keras kami memasuki wilayah apapun alasannya. Ada kesan kuat wilayah ini sengaja diisolasi.  Sebenarnya ada tiga pintu untuk masuk ke wilayah ini, namun kesemuanya dijaga ekstra ketat.  Dari laporan beberapa orang sekitar (dibenarkan beberapa LSM yang pernah melakukan peninjauan) di wilayah ini ada 300 KK lebih pengungsi yang kesemuanya korban dari alasan yang sama, yakni pelampiasan frustrasi aparat yang gagal menemukan GAM. Rumah-rumah mereka dibakar, dan itu terjadi pada awal dua minggu sebelum puasa 2002.

BANDA ACEH

Pengungsi berasal dari Km 60 Rimba Raya, Kecamatan Timbang Gajah, Kabupaten Aceh Tengah. Terjadi pertengahan 2001, diawali dengan pengambilan paksa para lelaki di kampung mereka oleh aparat TNI Polri  untuk alasan yang tidak mereka ketahui. Pada saat mereka mengungsi laki-laki yang ada hanya yang berada dibawah usia 16 tahun, selebihnya adalah perempuan, anak-anak dan manula. Dulu di kampung mereka terjalin keakraban komunitas dari beragam etnis, Jawa, Medan, Minang, Gayo dan Aceh. Mereka yang sekarang mengungsi di Banda Aceh (59 KK) hanya sebagian kecil dari komunitas itu. Selebihnya terpencar di wilayah-wilayah lain, yang mereka tidak tahu persis. Kini desa mereka sudah rata serata tanah, dibakar aparat TNI Polri.

DESA LAMBADE, KEC PEKAN BADE – ACEH BESAR

Ada 80 KK pengungsi di desa ini.  Sebagian besar pengungsi berasal dari desa Keuneeng Ajun, Aceh Besar, sebagian lainnya dari wilayah lain. Kondisi pengungsi sangat buruk. Kami tidak bisa memasuki Kamp ini karena pada saat yang sama diberitakan akan ada kontak senjata. Situasi di Kamp ini memang masih sangat rawan untuk dikunjungi. Penculikan dan terror hingga hari-hari ini masih terus berlangsung. Aparat dengan  ketat mengisolasi Kamp, mengawasi setiap perhatian dan sumbangan yang masuk.

SEKTOR BARAT – SELATAN
Dari awal kami sudah diinformasikan bahwa perjalanan ke Sektor Barat Selatan lebih sulit dan lebih rawan. Itu artinya perjalanan ini akan jauh lebih mencekam. Belum lagi kami hanya punya waktu 24 jam dan sepakat kami tidak akan berhenti untuk istirahat/tidur. Tidur kami lakukan bergantian sepanjang perjalanan. Kami meninggalkan Banda Aceh setelah sahur, dengan perasaan yang galau. Lepas Banda Aceh, pemandangan pantai dan laut lepas yang terhampar  indah sepanjang ratusan kilometer membuat hati semakin trenyuh. Bagaimanakah ciptaan Tuhan yang seindah itu ikut terbelenggu oleh konflik politik.  tak dapat dengan leluasa dinikmati dengan kegembiraan bahkan oleh masyarakat setempat.

Kami tidak mengunjungi pengungsi di Aceh Barat karena keterbatasan waktu. Namun dengan kawan-kawan di Banda Aceh, kami sepakat,  setelah kami meninggalkan Aceh, mereka akan mensuplai obat-obatan yang kami bawa ke wilayah Barat, berikut dokter.  Kami juga tidak berhenti membantu pengungsi korban banjir, karena dari laporan yang kami dengar, berbeda dengan pengungsi korban konflik, pengungsi korban banjir  cukup mendapat perhatian dari Pemerintah. Lagi-lagi pemndangan sepanjang lokasi banjir ini kembali mengingatkan saya pada keserakahan ‘penebangan hutan’ yang dilakukan kroni Cendana di era Orde Baru. Rumah-rumah yang hanyut dan sebagian besar hancur, penghuninya entah kemana sementara di Jl Cendana Jakarta, orang yang ikut /paling bertanggung jawab atas bencana/ kerusakan alam itu hidup dengan tenang, aman, tak sedikitpun diusik oleh penegakan hukum.

Berbeda dengan ketika kami mengelilingi Sektor Timur Utara, di sepanjang perjalanan sektor Barat Selatan ini, kami dihentikan petugas keamanan di sebagian besar pos-pos yang ada.  Para petugasnya jauh lebih kasar (bukan disiplin). Kami dihadapkan pada berbagai model pendekatan yang dilancarkan yang seluruhnya jauh dari sopan apalagi professional. Bersuara keras, memaki, mengeluarkan nada suara yang mengancam sambil mengacung-acungkan senapan ke wajah kami seolah kebanggaan dan menjadi bagian utama dari tugas menjaga pos keamanan.  Ini mungkin pengalaman pertama saya (dengan karakter saya yang asli) dituntut habis-habisan untuk bersabar. Sepanjang perjalanan saya terus merenungkan apakah sebenarnya yang salah dalam diri mereka ? Mereka diberangkatkan orangtuanya dengan kasih sayang, dibekali budi pekerti, dengan harapan dapat menjadi putra-putra pembela bangsa. Tapi apa yang saya saksikan, apa yang saya dengar dari masyarakat / korban tentang bagaimana mereka bisa dengan enteng dan pongah melecehkan kemanusiaan sungguh suatu yang menakutkan, memalukan  sekaligus menyedihkan.

TAPAK TUAN – ACEH SELATAN
Pengungsi di wilayah ini terbagi di tiga desa antara lain, Desa Sawang (pinggir), Desa Aju Sejahtera, dan Desa Panton Luas. Para Pengungsi menumpang di rumah – rumah penduduk, karena aparat TNI Polri melatang mereka menginap dimasjid- masjid, atau madrasah.  Berawal dari pembakaran 84 buah rumah di wilayah SAWANG yang terjadi pada minggu pertama bulan Ramadhan 2002, sebanyak 578 KK penduduk meninggalkan desa mereka, mencari perlindungan di Mesjid atau madrasah.  Ketika ditanya siapakah yang melakukan pembakaran itu, tidak satu orangpun berani membuka mulut.  Tapi setelah kami membujuk dan berusaha mengorek, mereka lalu menceritakan bagaimana mereka diusir dengan kekerasan oleh aparat TNI Polri dari mesjid/madrasah dimana mereka berlindung.  Kaum perempuan dan anak-anak diseret ke lapangan dan dijemur. Mereka dipaksa mendongak  menatap terik matahari.  Plafon mesjid ditembaki aparat hingga hancur.  Ketika satu dua dari mereka menjadi lemas dan pingsan, aparat panik dan menembaki langit, hingga sebuah peluru nyasar ke seorang anak berusia enam tahun, dan mati.  Seperti di tempat-tempat pengungsian lainnya, kami membutuhkan sedikitnya setengah jam untuk membujuk pengungsi untuk mendekat dan buka mulut.  Trauma yang dalam membekas kuat diair muka mereka. Di Tapak Tuan ini seorang bekas Lurah, pucat,  tampak terus menggigil dan ketakutan, tidak mampu membuka mulutnya. Ditengah kami sedang berusaha membesarkan hati mereka, menjelaskan bagaimana cara menggunakan obat yang kami bawa, seseorang menerobos, membisikkan ketelinga saya, “Cuak”.  Kami serempak berdiri. Suasana mendadak kaku, dingin dan  mencekam.  Para Pak Kecik mendesak agar kami segera pergi.  Dan kami pergi -----  Kami meninggalkan para pengungsi itu dengan kecemasan dan kesedihan luar biasa.

Betul, pos pertama yang kami lalui setelah Desa Sawang, dengan kasar berteriak-teriak menghentikan mobil kami. Lebih dari 15 orang petugas mengerumuni mobil kami, menginterview satu demi satu anggota rombongan, sementara sebagian lainnya dengan cermat memeriksa setiap sudut mobil.  Dalam hati saya terus berdoa, bukan semata-mata untuk kami, tapi terutama untuk pengungsi yang baru saja kami tinggalkan. Saya tidak akan sanggup memaafkan diri saya kalau sampai oleh kehadiran kami disana, mereka, atau salah satu dari mereka kembali mendapat siksaan.

SEPANJANG SUNGAI KLUEK – ACEH SELATAN
Di sepanjang sungai Kluek (utara dan selatan) Kab. Aceh Selatan ada sekitar 2600 Jiwa Pengungsi yang kini terisolasi dari berbagai bantuan. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak, perempuan dan manula. Mereka tidur dibawah pondok-pondik darurat dengan atap daun, tidur jiga beralaskan daun. Kesulitan makanan memaksa mereka  memakan apa yang bisa dimakan di sekitar mereka berlindung, karena semua jalan yang menuju kedaerah ini ditutup oleh aparat.  Kami tidak berhasil memasuki wilayah ini.

Catatan Perjalanan Ratna Sarumpaet dalam safari ramadhannya mengunjungi Rakyat Aceh, Jakarta - 2001.

Share |
Powered By : Yoriz Media.