Ratna Sarumpaet Crisis Center/RSCC

- Ratna Sarumpaet Crisis Center atau biasa disebut RSCC adalah sebuah lembaga sosial/ kemanusiaan yang digagas untuk melengkapi kecenderungan Ratna Sarumpaet menolong sesama. Sehari-hari, RSCC menolong masayarakat kecil yang tidak mampu menghadapi maslah yang menimpanya (TKW/TKI), yang tidak mampu memenuhi biayai pengobatan, dll. Dalam konteks Monika Shinta, seorang perempuan paruh baya tangguh adalah yang bertanggung jawab sebagai Koorninator, sementara untuk membantu rakyat yang mempunyai masalah hukum/ketidak adilan, ditangani seorang Lawyer Aktivis, Fatmawati Dugo, SH.
- Ratna Sarumpaet sendiri hanya terjun untuk kasus-kasus besar seperti : Investigasi Kasus Buruh dan Marsinah (1993-1997), Konflik Politik Di Aceh (1999-2000), Banjir Bandang di Jakarta (2001), Kasus Pencemaran lingkungan di Porsea (2002) dan Tsunami (2001).
- Untuk kasus-kasus besar seperti itu RSCC dan SATU MERAH PANGGUNG bekerja ibarat dua sisi mata uang. Hasil penyelidikan RSCC tentang Konflik di Aceh (misalnya) dituangkan ke Naskah drama oleh Ratna dan dipentaskan di atas panggung oleh Satu Merah Panggung.
- Pembagian tugas juga disesuaikan dengan situasi dan kapasitas para anggotanya. Saat Tsunami (misalnya). Manager (In Charge ) saat itu dipercayakan pada Atiqah Hasiholan, terutama yang berhubungan dengan pencarian DANA, sementara koordinator di lapangan dipercayakan pada Ibu Masitah (Asli Aceh) berdampingan dengan Joel Thaher, Mujib, Amin, Bangi, Bang Djuli, Pele, dll
- Kecuali saat Tsunami, RSCC tidak menerima donor dari NGO Asing, tapi dari masyarakat Indonesia. Lembaga ini resmi diumumkan saat Banjir Bandang melanda Jakarta 2001.
-----------------------------------------
2004-2005
Tsunami 2005
Tsunami 2005
Dead Bodies Evacuation





RSCC tiba di Banda Aceh pada hari ke3 Tsunami. Semua masih gelap ............
Gle Putoh Lamno - Aceh Barat
Niat awal RSCC membantu korban Tsunami fokus pada evakuasi mayat. Niat itu kemudian berubah karena 2.alasan :
1. Kami mendapat tawaran kerjasama dari UNDP untuk membangun penampungan sementara
2. Kami mendengar kabar tentang Lamno, di wilayah Aceh Barat yang nyaris tidak disentuh oleh NGO manapun. Wilayah ini memang terputus dari Banda Aceh. Satu-satunya cara menuju Lamno adalah melalui laut, dengan masa tempuh 8 jam. Di samping itu, alasan lain orang enggan atau cemas membantu Lamno dikenal sebagai wilayah GAM.
1. Kami mendapat tawaran kerjasama dari UNDP untuk membangun penampungan sementara
2. Kami mendengar kabar tentang Lamno, di wilayah Aceh Barat yang nyaris tidak disentuh oleh NGO manapun. Wilayah ini memang terputus dari Banda Aceh. Satu-satunya cara menuju Lamno adalah melalui laut, dengan masa tempuh 8 jam. Di samping itu, alasan lain orang enggan atau cemas membantu Lamno dikenal sebagai wilayah GAM.

UNDP membebaskan RSCC memilih lokasi yang ingin dibantu dan bagaimana kami mengelolanya. Pilihan jatuh ke Lamno, tepatnya Desa Gle Putoh karena tempat ini memang nyaris tidak tersentuh. Tempat-tempat penampungan tenda yang lain (di Banda Aceh), dibangun biasa, hanya dengan menggunakan tiang penyanggah dan pendek. Pengungsi hanya bisa berlindung di dalam dengan membungkuk, duduk atau tidur. Melihat kenyataan itu, dan melihat kemungkinan pengungsi masih akan lama tinggal di penampungan seperti itu, RSCC memutuskan menggunakan tenda yang disumbangkan UDP dengan cara berbeda, Kami menggunakan tiang penyanggah setinggi 3 meter, melapisinya dengan dinding terpal, hingga pengungsi bisa bergerak leluasa di dalamnya.

RSCC membangun Tenda Rumah seperti ini untuk 500 kk di Desa Gle Putoh, lengkap dengan kamar mandi umum, Dapur Umum, Gudang, Medical Center dan Ruang Pertemuan.


Membangun Dengan Cinta, dan Sabar ......











RUMAH KANDANG AYAM.
Bergaul dengan para pengungsi, menjadi bagian dari persoalan yang mereka hadapi, penderitaan mereka, kemiskinan dan kekhawatiran mereka melihat masa depannya, membuat RSCC sempat tergoda untuk berlama-lama di Aceh. Kami membantu mereka memetakan ulang desa asal mereka, kami membantu mempersiapkan surat2 dan menjadi media advokasi saat berhadapan dengan pemerintah. Hubungan baik itu juga mungkin yang mendorong rakyat yang kami lindungi mengharapkan kami membantu mereka membangun rumah masa depan untuk mereka. Walaupun kami tahu itu sudah terlalu jauh dari missi RSCC, kami (diwakili Atiqah) sempat menjajaki kemungkinan kerja sama dengan NGO Asing, supaya tidak harus bergantung dengan pembagian KUE dari BRR, terutama karena issu Korupsi dalam proses pembangunan kembali Aceh terus mencuat. Namun dengan sedih kami akhirnya memutuskan tidak terlibat. Kami tidak ingin terlibat dengan Keputusan Bappenas (Pemerintah) yang menetapkan biaya pembangunan rumah dan ukuran rumah bagi kami (RSCC) tidak lebih berharga dari Kandang Ayam. Kami tidak ingin menjadi bagian dari gerombolan Penguasa yang dengan kekuasaannya bisa semena-mena melecehkan kemanusiaan.

Perpisahan Mengharukan.
Hari perpisahan itu akhirnya tiba ( TANGGAL?). Kalau selama 2 tahun RSCC melayani Pengungsi, minggu ini pengungsi sibuk menyiapkan hanjatan perpisahan. Membersihkan KAMP, belanja dan masak.



Doa-doa dan Upacara Adat







Meski RSCC resmi menolak terlibat dalam PROYEK pembangunan rumah pengungsi, sampai 1 tahun lebih,
anggota RSCC, seperti Amien, Tony Nasution, Yudhistira, Pele, Bang Djuli, Bangi, dll
masih datang dan pergi mendamping rakyat di Lamno. Seamat tinggal, Lamno, God Bless you always.


Terimakasih pada semua pihak, para Penyumbang terutama para RELAWAN,
yang telah memungkinkan RSCC terlibat dalam menangani korban Tsunami di Aceh. Atas empaty dan kegigihan kalian kalian itu, RSCC mendapat penghargaan Tsunami Award dari rakyat Aceh,
penghargaan itu adalah penghargaan untuk kalian.








_____________________________________
1999 - 2000
Aceh Conflict . Stories Behind Formal News

Baca surat Yassin di Bukit Tengkorak.
Ribuan tengkorak rakyat Aceh yang menjad korban konflih terkubur disini
dan ada lima bukit lain yang seperti ini terserak di Aceh.
Sampai hari ini, kasus kemanusiaan korban Penguasa Orde Baru ini tak pernah terungkap.
Pengepungan Cot Trieng
Berfoto dengan Pengungsi yang diungsikan atas perisiwa yang tidak pernah ada. Rumah mereka diduduki aparat, dipakai untuk pura-pura memantau, untuk main kartu dan minum-minum .........
Conclution From TAPAK TUAN (North Aceh)

Berfoto dengan masyarakat Tapak Tuan, sebelum tiba-tiba seorang CUAK ( mata-mata hidung belang) muncul, dan masyarat setempat buru meminta kami pergi, setelah berdoa bersama.
Bergaul dengan para pengungsi, menjadi bagian dari persoalan yang mereka hadapi, penderitaan mereka, kemiskinan dan kekhawatiran mereka melihat masa depannya, membuat RSCC sempat tergoda untuk berlama-lama di Aceh. Kami membantu mereka memetakan ulang desa asal mereka, kami membantu mempersiapkan surat2 dan menjadi media advokasi saat berhadapan dengan pemerintah. Hubungan baik itu juga mungkin yang mendorong rakyat yang kami lindungi mengharapkan kami membantu mereka membangun rumah masa depan untuk mereka. Walaupun kami tahu itu sudah terlalu jauh dari missi RSCC, kami (diwakili Atiqah) sempat menjajaki kemungkinan kerja sama dengan NGO Asing, supaya tidak harus bergantung dengan pembagian KUE dari BRR, terutama karena issu Korupsi dalam proses pembangunan kembali Aceh terus mencuat. Namun dengan sedih kami akhirnya memutuskan tidak terlibat. Kami tidak ingin terlibat dengan Keputusan Bappenas (Pemerintah) yang menetapkan biaya pembangunan rumah dan ukuran rumah bagi kami (RSCC) tidak lebih berharga dari Kandang Ayam. Kami tidak ingin menjadi bagian dari gerombolan Penguasa yang dengan kekuasaannya bisa semena-mena melecehkan kemanusiaan.

Perpisahan Mengharukan.
Hari perpisahan itu akhirnya tiba ( TANGGAL?). Kalau selama 2 tahun RSCC melayani Pengungsi, minggu ini pengungsi sibuk menyiapkan hanjatan perpisahan. Membersihkan KAMP, belanja dan masak.



Doa-doa dan Upacara Adat







Meski RSCC resmi menolak terlibat dalam PROYEK pembangunan rumah pengungsi, sampai 1 tahun lebih,
anggota RSCC, seperti Amien, Tony Nasution, Yudhistira, Pele, Bang Djuli, Bangi, dll
masih datang dan pergi mendamping rakyat di Lamno. Seamat tinggal, Lamno, God Bless you always.


Terimakasih pada semua pihak, para Penyumbang terutama para RELAWAN,
yang telah memungkinkan RSCC terlibat dalam menangani korban Tsunami di Aceh. Atas empaty dan kegigihan kalian kalian itu, RSCC mendapat penghargaan Tsunami Award dari rakyat Aceh,
penghargaan itu adalah penghargaan untuk kalian.
2001
Banjir Bandang - JAKARTA

Banjir Bandang - JAKARTA









Antri daging Qurban di depan Rumah Ratna Sarumpaet.
78 ekor kambing dan 11 ekor sapi dipotong di Rumah ini untuk dibegaikan pada pengungsi.
Seluruhnya Qurban sumbangan dari masyarakat Indonesia yang datang dari berbagai Wilayah,
Riau, Bandung, BanjarMasin, Papua hingga USA.
78 ekor kambing dan 11 ekor sapi dipotong di Rumah ini untuk dibegaikan pada pengungsi.
Seluruhnya Qurban sumbangan dari masyarakat Indonesia yang datang dari berbagai Wilayah,
Riau, Bandung, BanjarMasin, Papua hingga USA.
_____________________________________
1999 - 2000
Aceh Conflict . Stories Behind Formal News
Mengikuti
terus menerus perkembangan situasi politik di Aceh tahun-tahun terakhir
terutama sejak pemerintahan Megawati. Melihat perbedaan sangat mencolok
antara Pernyataan resmi Pemerintah melalui Media Massa dengan apa yang
kita terima melalui internet, SMS / hubungan langsung telepon Jakarta
Aceh. Tidak dapat dipungkiri lahirnya keraguan dan syak yang sangat
mengganggu, “ Apakah Pemerintah masih menghormati hak Rakyat untuk
memperoleh informasi yang sejujurnya tentang apa yang terjadi di Aceh?
Apakah hak/ kebebasan Pers masih utuh, seutuh ketika kita
memperjuangkannya pada masa reformasi?” Kalau kita teliti ada bahkan
masa-masa kenyataan di Aceh tidak terlihat sama sekali dalam
pemberitaan sementara melalui SMS misalnya kita tahu korban kekerasan
nyaris tidak pernah sungguh-sungguh berhenti di Aceh, dan rakyat berhak
mengetahuinya.
Upaya menempuh jalan damai melalui meja perundingan bulan-bulan terakhir membuka kembali percakapan tentang Aceh. Membukanya percakapan ini dengan semangat menempuh jalan damai yang sedang dirintis harusnya memberi kita harapan. Tetapi langkah, upaya dan statement Pemerintah yang muncul ke permukaan masih saja menanam keraguan di hati saya. Apa yang terus didengungkan Pemerintah bahwa “Aceh berangsur kondusif, Pengungsi sudah tidak ada, GAM semakin terkepung dan melemah” bertolak belakang dengan kenyataan dilapangan yang beritanya saya peroleh langsung dari lapangan. Kekhawatiran yang mengepung perasaan dan pikiran saya oleh kenyataan2 diatas tidak semata atas nasib masyarakat Aceh. Nasib demokrasi seluruh bangsa yang diperjuangkan di masa reformasi dengan mengorbankan begitu banyak hal, merupakan bagian utama dari kekhawatiran saya. Dan ketika awal November 2002 pengepungan di Aceh Utara dimulai tanpa alasan yang bisa diterima logika saya, saya tidak punya pilihan lain kecuali mengunjungi Aceh, langsung ke pusat-pusat konflik.Hanya Tuhan yang tahu betapa perasaan saya dibelenggu kecemasan. Tapi ditemani tiga orang awak Satu Merah Panggung, Selasa, 26 November 2002, saya akhirnya meninggalakan Jakarta. Terimakasih pada para donatur Jakarta, hingga kami bisa mengunjungi Aceh dengan membawa bantuan lebaran, obat-obatan dan peralatan ibadah. Dan jujur harus saya akui, disamping bantuan kemanusiaan yang kami bawa, focus utama kunjungan saya ke Aceh adalah mencari kebenaran. Saya ingin menyaksikan langsung apa yang sesungguhnya terjadi. Saya ingin berada ditengah masyarakat yang terjebak di wilayah-wilayah konflik. Berbicara dengan mereka dan mendengar langsung keluhan-keluhan mereka dari hati kehati.
Upaya menempuh jalan damai melalui meja perundingan bulan-bulan terakhir membuka kembali percakapan tentang Aceh. Membukanya percakapan ini dengan semangat menempuh jalan damai yang sedang dirintis harusnya memberi kita harapan. Tetapi langkah, upaya dan statement Pemerintah yang muncul ke permukaan masih saja menanam keraguan di hati saya. Apa yang terus didengungkan Pemerintah bahwa “Aceh berangsur kondusif, Pengungsi sudah tidak ada, GAM semakin terkepung dan melemah” bertolak belakang dengan kenyataan dilapangan yang beritanya saya peroleh langsung dari lapangan. Kekhawatiran yang mengepung perasaan dan pikiran saya oleh kenyataan2 diatas tidak semata atas nasib masyarakat Aceh. Nasib demokrasi seluruh bangsa yang diperjuangkan di masa reformasi dengan mengorbankan begitu banyak hal, merupakan bagian utama dari kekhawatiran saya. Dan ketika awal November 2002 pengepungan di Aceh Utara dimulai tanpa alasan yang bisa diterima logika saya, saya tidak punya pilihan lain kecuali mengunjungi Aceh, langsung ke pusat-pusat konflik.Hanya Tuhan yang tahu betapa perasaan saya dibelenggu kecemasan. Tapi ditemani tiga orang awak Satu Merah Panggung, Selasa, 26 November 2002, saya akhirnya meninggalakan Jakarta. Terimakasih pada para donatur Jakarta, hingga kami bisa mengunjungi Aceh dengan membawa bantuan lebaran, obat-obatan dan peralatan ibadah. Dan jujur harus saya akui, disamping bantuan kemanusiaan yang kami bawa, focus utama kunjungan saya ke Aceh adalah mencari kebenaran. Saya ingin menyaksikan langsung apa yang sesungguhnya terjadi. Saya ingin berada ditengah masyarakat yang terjebak di wilayah-wilayah konflik. Berbicara dengan mereka dan mendengar langsung keluhan-keluhan mereka dari hati kehati.

Baca surat Yassin di Bukit Tengkorak.
Ribuan tengkorak rakyat Aceh yang menjad korban konflih terkubur disini
dan ada lima bukit lain yang seperti ini terserak di Aceh.
Sampai hari ini, kasus kemanusiaan korban Penguasa Orde Baru ini tak pernah terungkap.
PEMRAKA
Di sebuah rumah sederhana, yang juga menjadi secretariat PEMRAKA, kami bertemu 25 orang korban kekerasan TNI. Ini konsentrasi kegiatan Organisasi (Mahasiswa) ini. Menampung dan membantu perawatan, fisik, psyhis korban kekerasan yang terjadi sejak dari tahun 2001-2002. Beberapa alasan yang membuat PEMRAKA memilih kegiatan serupa adalah : Tidak adanya penanganan secara khusus oleh Pemerintah terhadap nasib korban- korban di Kamp – kamp pengungsian yang tersebar dihampir setiap wilayah- wilayah yang dekat dengan konflik. Beberapa kasus yang serupa menimpa korban adalah begitu sulitnya mendapatkan pertolongan untuk luka yang dideritanya yang pada akhirnya membuat luka itu membusuk dan tak jarang merenggut nyawa si korban itu sendiri. Warga yang mengalami penganiayaan aparat TNI umumnya atas tuduhan mereka terlibat gerakan pemberontak ( GAM ). Dari beberapa kejadian, korban yang mencoba mencari bantuan ke Rumah Sakit, hilang/diculik, karena dikhawatirkan akan memberikan kesaksian.
KENDALA.
Obat – obatan yang tidak tersedia di Apotik & mahalnya harga obat. Penyediaan PEN ( penunjang besi) untuk tulang remuk / patah. Karena harga sebuah PEN sangat mahal per- unitnya. Makanan tidak memenuhi standar gizi, terutama bagi anak- anak dan manula. Kenadala KHUSUS / Urgent. Rumah kontrakan yang digunakan PEMRAKA sebagai secretariat / menampung korban, berakhir bulan ini. Untuk itu, mereka sangat mengharapkan bantuan untuk bisa melanjutkan kerja mereka.
RAEHAN
Raehan adalah seorang aktivis yang sekarang ditahan di LP. Keudah Banda Aceh. Dia Mahasiswi di Univ. UNSYAH KUALA semester 5 jurusan HUKUM. Raehan ditangkap Aparat saat melakukan Aksi memprotes Pemerintahan Megawati dan Hamzah Haz. Tuntutan Aksi, memprotes Kinerja Pemerintah / Megawati dalam memperhatikan situasi dan kondisi di Aceh, baik di Bid. Keamanan, Keadilan dan kesejahteraan terutama bagi Rakyat miskin. Kasus yang dituduhkan kepadanya adalah, penghinaan terhadap Kepasla Negara karena mencoret Foto Megawati – Hamzah Haz, dengan cat semprot berwarna merah. Didalam Aksi saat itu dia menjabat sebagai Kor-Lap dan penanggung Jawab Aksi. Ia bersedia bertanggung jawab untuk semua perbuatan yang dia lakukan dengan sadar dia lakukan kalau itu memang salah dimata Hukum. Tapi hukum yang mana ? Dia balik bertanya -----
SIRA
SIRA adalah LSM yang dulu menggagas dan mewujudkan Referendum Aceh yang heboh itu, dan sampai hari ini masih percaya, Referendum adalah cara yang harus dipakai untuk mengetahui apa sesungguhnya yang diinginkan Rakyat Aceh. Pernyataan SIRA senada dengan apa yang di katakan Raihan sebelumnya, kesenjangan sosial yang semakin parah, rasa aman yang semakin tipis, penculikan para aktifis / relawan kemanusiaan yang makin marak, serta rekayasa meniadakan eksistensi Pengungsi untuk mendukung pernyataan pemerintah “Aceh Kondusif, pengungsi tidak ada”
Di sebuah rumah sederhana, yang juga menjadi secretariat PEMRAKA, kami bertemu 25 orang korban kekerasan TNI. Ini konsentrasi kegiatan Organisasi (Mahasiswa) ini. Menampung dan membantu perawatan, fisik, psyhis korban kekerasan yang terjadi sejak dari tahun 2001-2002. Beberapa alasan yang membuat PEMRAKA memilih kegiatan serupa adalah : Tidak adanya penanganan secara khusus oleh Pemerintah terhadap nasib korban- korban di Kamp – kamp pengungsian yang tersebar dihampir setiap wilayah- wilayah yang dekat dengan konflik. Beberapa kasus yang serupa menimpa korban adalah begitu sulitnya mendapatkan pertolongan untuk luka yang dideritanya yang pada akhirnya membuat luka itu membusuk dan tak jarang merenggut nyawa si korban itu sendiri. Warga yang mengalami penganiayaan aparat TNI umumnya atas tuduhan mereka terlibat gerakan pemberontak ( GAM ). Dari beberapa kejadian, korban yang mencoba mencari bantuan ke Rumah Sakit, hilang/diculik, karena dikhawatirkan akan memberikan kesaksian.
KENDALA.
Obat – obatan yang tidak tersedia di Apotik & mahalnya harga obat. Penyediaan PEN ( penunjang besi) untuk tulang remuk / patah. Karena harga sebuah PEN sangat mahal per- unitnya. Makanan tidak memenuhi standar gizi, terutama bagi anak- anak dan manula. Kenadala KHUSUS / Urgent. Rumah kontrakan yang digunakan PEMRAKA sebagai secretariat / menampung korban, berakhir bulan ini. Untuk itu, mereka sangat mengharapkan bantuan untuk bisa melanjutkan kerja mereka.
RAEHAN
Raehan adalah seorang aktivis yang sekarang ditahan di LP. Keudah Banda Aceh. Dia Mahasiswi di Univ. UNSYAH KUALA semester 5 jurusan HUKUM. Raehan ditangkap Aparat saat melakukan Aksi memprotes Pemerintahan Megawati dan Hamzah Haz. Tuntutan Aksi, memprotes Kinerja Pemerintah / Megawati dalam memperhatikan situasi dan kondisi di Aceh, baik di Bid. Keamanan, Keadilan dan kesejahteraan terutama bagi Rakyat miskin. Kasus yang dituduhkan kepadanya adalah, penghinaan terhadap Kepasla Negara karena mencoret Foto Megawati – Hamzah Haz, dengan cat semprot berwarna merah. Didalam Aksi saat itu dia menjabat sebagai Kor-Lap dan penanggung Jawab Aksi. Ia bersedia bertanggung jawab untuk semua perbuatan yang dia lakukan dengan sadar dia lakukan kalau itu memang salah dimata Hukum. Tapi hukum yang mana ? Dia balik bertanya -----
SIRA
SIRA adalah LSM yang dulu menggagas dan mewujudkan Referendum Aceh yang heboh itu, dan sampai hari ini masih percaya, Referendum adalah cara yang harus dipakai untuk mengetahui apa sesungguhnya yang diinginkan Rakyat Aceh. Pernyataan SIRA senada dengan apa yang di katakan Raihan sebelumnya, kesenjangan sosial yang semakin parah, rasa aman yang semakin tipis, penculikan para aktifis / relawan kemanusiaan yang makin marak, serta rekayasa meniadakan eksistensi Pengungsi untuk mendukung pernyataan pemerintah “Aceh Kondusif, pengungsi tidak ada”
Pengepungan Cot Trieng
Berfoto dengan Pengungsi yang diungsikan atas perisiwa yang tidak pernah ada. Rumah mereka diduduki aparat, dipakai untuk pura-pura memantau, untuk main kartu dan minum-minum ......... Dari
pemberitaan dan wawancara-wawancara tentang pengepungan Cot Trieng,
bayangan saya sebelum menuju Aceh Utara adalah menakutkan. Serius dan
berbahayanya pengepungan atas kaum pemberontak GAM yang bersembunyi di
balik bukit di desa Cot Trieng ini pastikah penuh ketegangan. Tapi apa
yang saya saksikan bertolak belakang sama sekali. Di sekitar Lhoksmawe,
sebelum memasuki wilayah pengepungan yang terlihat adalah pameran
kekuatan yang pongah. Teng-teng, truk-truk raksasa berisi tentara
berkonvoi di jalan-jalan, entah dari mana, menuju kemana dan untuk apa?
Tentara menenteng senapan dimana-mana. Di pasar-pasar, dijalan, di
wilayah perumahan, disekitar rumah-rumah ibadah. Tidak jelas betul apa
yang mereka lakukan dan tidak sedikitpun memberikan kesan mereka sedang
melakukan tugas professional mereka. Di depan puluhan pos (acak) tepi
jalan kami menyaksikan teng terparkir menghadap jalan raya. Seorang
tentara berdiri dalam posisi bersiap di puncaknya, sambil memanggul
senapan dengan moncong senapan mengarah keatas. Untuk apa, juga tidak
jelas …… Memasuki wilayah pengepungan kami melewati rumah-rumah yang
jauh dari kehidupan. Di wilayah pengepungan sendiri di rumah-rumah yang
ada, sebagian rumah dipakai sebagai pos penjagaan. Disini kehidupan
rutin tidak terlihat, kecuali beberapa warung yang tetap buka serta
kesibukan pengamanan.
UNIVERSITAS POLITEKNIK LHOKSMAWE
Para pengungsi di Politeknik semula berjumlah 55 KK. Kami tiba disana pada hari sebagian pengungsi (30 KK) telah memberanikan diri meninggalkan Politeknik. Tidak tahan menghadapi terror yang setiap malam dilancarkan aparat TNI mereka memutuskan mencari rumah saudara atau kerabat masing-masing untuk tempat berlindung sementara,. Bentuk teror yang dilakukan adalah ancaman penyerbuan. Disamping itu, selalu saja ada mayat yang tergeletak di pekarangan Universitas dan itu terjadi hampir setiap hari. Di Politeknik ini kami juga menerima kesaksian dari 4 orang perempuan tentang kematian 4 orang laki-laki yang dibakar hidup-hidup oleh aparat TNI Polri pada ------- pada saat 4 lelaki itu menjaga tambak udang (professi mereka). Ada trauma dan ketakutan yang luar biasa ketika mereka menceritakan bagaimana suami/anak mereka mereka saksikan hangus hingga tinggal tulang. Dua dari yang memberi kesaksian adalah istri dari dua yang meninggal, dua lainnya adalah Ibu dari dua korban lainnya. Dari Universitas Politeknik, setelah istirahat sambil buka puasa, kami langsung menuju Langsa. Perjalanan malam memberi ketegangan tersendiri. Kecepatan kami dengan sendirinya menurun karena di setiap Pos yang terdapat di jarak rata-rata sekali satu kolimeter, kami harus memperlambat kecepatan sampai 5 km / jam, paling tidak untuk sepanjang 100 sampai 200 meter. Kami tiba di Langsa lewat tengah malam. Menginap di rumah seorang kenalan yang menyediakan lantai kedua Rukonya untuk kami meletakkan badan, istirahat.
BP HAM LANGSA
Tanggal 29 November 2002. Agenda pertama di Langsa adalah bertemu korban kekerasan di BP HAM. Ada 15 kk pengungsi ditampung disini. Mereka adalah korban pelecehan/kekerasan seksual, seperti pemerkosaan yang dilakukan aparat TNI Polri. Berasal dari kampung yang sama di Langsa, mereka adalah kaum perempuan yang suaminya diduga GAM. Mereka dipaksa menunjukkan dimana tempat suaminya bersembunyi. Dalam proses itulah mereka dianiaya. Dua dari mereka mengaku kedalam kemaluannya dimasukkan senter. Bagi mereka keputusan mengungsi / membuat pengaduan ke BP HAM Langsa adalah keputusan tidak akan pulang (untuk sementara) ke kampung/rumahnya, karena pulang berarti dihabisi.
LHOK NIBOENG – ACEH TIMUR
Pengungsi yang ada di Kamp ini umumnya berprofesi sebagai petani karet. Mereka berasal dari desa Alue Ie Mirah, Aceh Timur. Awalnya mereka mengungsi di desa pante Bayam. Teror-teror yang dilancarkan aparat TNI Polri membuat mereka beberapa kali berpindah sebelum akhirnya menetap cukup lama (21 bulan) di Lhok Niboeng, dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Mereka berlindung di los-los pasar dekat ke pembuangan sampah. Rata-rata anak-anak terkena penyakit gatal-gatal (bernanah). Pengungsi yang ada di Kamp ini awalnya berjumlah 115 KK. Tidak tahan, sebagian dari mereka memutuskan pindah ke kedareh Binjai. Sekarang yang tersisa 79 KK, mayoritas anak- anak dan orang tua. Tidak ada perhatian Pemerintah / Pemda atas keberadaan mereka. Berulangkali mereka telah mendatangi/menyurati/ meminta bantuan Camat dan Bupati Aceh Timur untuk dipulangkan kedesa masing – masing, hingga saat ini masih belum ditanggapi. Dilain pihak, Pos-pos TNI Polri yang terdapat disekitar Kamp melarang ketat bantuan masuk ke Kamp mereka. Upaya lain yang mereka lakukan adalah mencari bantuan sampai ke Medan, itupun jarang berhasil. Sikap umumnya pengungsi putus asa, pesimis dan selalu dibayangi rasa takut. Satu-satunya harapan mereka adalah pulang. Kembali melanjutkan kehidupannya sebagai petani karet tanpa harus merasa takut untuk ditangkap apalagi dibunuh.
DESA GEULEMPONG PAYOENG – ACEH TIMUR
Ada 76 KK pengungsi di wilayah ini, umumnya anak-anak dan manula. Pengungsi di Kamp ini adalah pengungsi yang rumah mereka dibakar aparat TNI Polri pada akhir era Orde Baru. Pada Era Habibi pemerintah sudah melakukan klarifikasi, dan berjanji akan mengembalikan mereka ke kampung mereka dan mengganti rumah-rumah mereka, setiap rumah 17 Juta Rupiah. Tetapi sampai hari ini janji itu tak kunjung ditepati. Mereka terus menunggu sambil secara alamiah dan bertahap membangun kehidupan sangat sederhana di wilayah dimana mereka sekarang tinggal, sambil tetap berharap Pemerintah mewujudkan janji memulangkah mereka.
GD GREBAK – ACEH TIMUR.
Wilayah ini diakui sebagai wilayah yang kental GAM. Kami tidak berhasil memasuki wilayah ini karena di pos-pos awal saja pemeriksaan sudah ketat. Petugas melarang keras kami memasuki wilayah apapun alasannya. Ada kesan kuat wilayah ini sengaja diisolasi. Sebenarnya ada tiga pintu untuk masuk ke wilayah ini, namun kesemuanya dijaga ekstra ketat. Dari laporan beberapa orang sekitar (dibenarkan beberapa LSM yang pernah melakukan peninjauan) di wilayah ini ada 300 KK lebih pengungsi yang kesemuanya korban dari alasan yang sama, yakni pelampiasan frustrasi aparat yang gagal menemukan GAM. Rumah-rumah mereka dibakar, dan itu terjadi pada awal dua minggu sebelum puasa 2002.
BANDA ACEH
Pengungsi berasal dari Km 60 Rimba Raya, Kecamatan Timbang Gajah, Kabupaten Aceh Tengah. Terjadi pertengahan 2001, diawali dengan pengambilan paksa para lelaki di kampung mereka oleh aparat TNI Polri untuk alasan yang tidak mereka ketahui. Pada saat mereka mengungsi laki-laki yang ada hanya yang berada dibawah usia 16 tahun, selebihnya adalah perempuan, anak-anak dan manula. Dulu di kampung mereka terjalin keakraban komunitas dari beragam etnis, Jawa, Medan, Minang, Gayo dan Aceh. Mereka yang sekarang mengungsi di Banda Aceh (59 KK) hanya sebagian kecil dari komunitas itu. Selebihnya terpencar di wilayah-wilayah lain, yang mereka tidak tahu persis. Kini desa mereka sudah rata serata tanah, dibakar aparat TNI Polri.
DESA LAMBADE, KEC PEKAN BADE – ACEH BESAR
Ada 80 KK pengungsi di desa ini. Sebagian besar pengungsi berasal dari desa Keuneeng Ajun, Aceh Besar, sebagian lainnya dari wilayah lain. Kondisi pengungsi sangat buruk. Kami tidak bisa memasuki Kamp ini karena pada saat yang sama diberitakan akan ada kontak senjata. Situasi di Kamp ini memang masih sangat rawan untuk dikunjungi. Penculikan dan terror hingga hari-hari ini masih terus berlangsung. Aparat dengan ketat mengisolasi Kamp, mengawasi setiap perhatian dan sumbangan yang masuk.
SEKTOR BARAT – SELATAN
Dari awal kami sudah diinformasikan bahwa perjalanan ke Sektor Barat Selatan lebih sulit dan lebih rawan. Itu artinya perjalanan ini akan jauh lebih mencekam. Belum lagi kami hanya punya waktu 24 jam dan sepakat kami tidak akan berhenti untuk istirahat/tidur. Tidur kami lakukan bergantian sepanjang perjalanan. Kami meninggalkan Banda Aceh setelah sahur, dengan perasaan yang galau. Lepas Banda Aceh, pemandangan pantai dan laut lepas yang terhampar indah sepanjang ratusan kilometer membuat hati semakin trenyuh. Bagaimanakah ciptaan Tuhan yang seindah itu ikut terbelenggu oleh konflik politik. tak dapat dengan leluasa dinikmati dengan kegembiraan bahkan oleh masyarakat setempat.
Kami tidak mengunjungi pengungsi di Aceh Barat karena keterbatasan waktu. Namun dengan kawan-kawan di Banda Aceh, kami sepakat, setelah kami meninggalkan Aceh, mereka akan mensuplai obat-obatan yang kami bawa ke wilayah Barat, berikut dokter. Kami juga tidak berhenti membantu pengungsi korban banjir, karena dari laporan yang kami dengar, berbeda dengan pengungsi korban konflik, pengungsi korban banjir cukup mendapat perhatian dari Pemerintah. Lagi-lagi pemndangan sepanjang lokasi banjir ini kembali mengingatkan saya pada keserakahan ‘penebangan hutan’ yang dilakukan kroni Cendana di era Orde Baru. Rumah-rumah yang hanyut dan sebagian besar hancur, penghuninya entah kemana sementara di Jl Cendana Jakarta, orang yang ikut /paling bertanggung jawab atas bencana/ kerusakan alam itu hidup dengan tenang, aman, tak sedikitpun diusik oleh penegakan hukum.
Berbeda dengan ketika kami mengelilingi Sektor Timur Utara, di sepanjang perjalanan sektor Barat Selatan ini, kami dihentikan petugas keamanan di sebagian besar pos-pos yang ada. Para petugasnya jauh lebih kasar (bukan disiplin). Kami dihadapkan pada berbagai model pendekatan yang dilancarkan yang seluruhnya jauh dari sopan apalagi professional. Bersuara keras, memaki, mengeluarkan nada suara yang mengancam sambil mengacung-acungkan senapan ke wajah kami seolah kebanggaan dan menjadi bagian utama dari tugas menjaga pos keamanan. Ini mungkin pengalaman pertama saya (dengan karakter saya yang asli) dituntut habis-habisan untuk bersabar. Sepanjang perjalanan saya terus merenungkan apakah sebenarnya yang salah dalam diri mereka ? Mereka diberangkatkan orangtuanya dengan kasih sayang, dibekali budi pekerti, dengan harapan dapat menjadi putra-putra pembela bangsa. Tapi apa yang saya saksikan, apa yang saya dengar dari masyarakat / korban tentang bagaimana mereka bisa dengan enteng dan pongah melecehkan kemanusiaan sungguh suatu yang menakutkan, memalukan sekaligus menyedihkan.
UNIVERSITAS POLITEKNIK LHOKSMAWE
Para pengungsi di Politeknik semula berjumlah 55 KK. Kami tiba disana pada hari sebagian pengungsi (30 KK) telah memberanikan diri meninggalkan Politeknik. Tidak tahan menghadapi terror yang setiap malam dilancarkan aparat TNI mereka memutuskan mencari rumah saudara atau kerabat masing-masing untuk tempat berlindung sementara,. Bentuk teror yang dilakukan adalah ancaman penyerbuan. Disamping itu, selalu saja ada mayat yang tergeletak di pekarangan Universitas dan itu terjadi hampir setiap hari. Di Politeknik ini kami juga menerima kesaksian dari 4 orang perempuan tentang kematian 4 orang laki-laki yang dibakar hidup-hidup oleh aparat TNI Polri pada ------- pada saat 4 lelaki itu menjaga tambak udang (professi mereka). Ada trauma dan ketakutan yang luar biasa ketika mereka menceritakan bagaimana suami/anak mereka mereka saksikan hangus hingga tinggal tulang. Dua dari yang memberi kesaksian adalah istri dari dua yang meninggal, dua lainnya adalah Ibu dari dua korban lainnya. Dari Universitas Politeknik, setelah istirahat sambil buka puasa, kami langsung menuju Langsa. Perjalanan malam memberi ketegangan tersendiri. Kecepatan kami dengan sendirinya menurun karena di setiap Pos yang terdapat di jarak rata-rata sekali satu kolimeter, kami harus memperlambat kecepatan sampai 5 km / jam, paling tidak untuk sepanjang 100 sampai 200 meter. Kami tiba di Langsa lewat tengah malam. Menginap di rumah seorang kenalan yang menyediakan lantai kedua Rukonya untuk kami meletakkan badan, istirahat.
BP HAM LANGSA
Tanggal 29 November 2002. Agenda pertama di Langsa adalah bertemu korban kekerasan di BP HAM. Ada 15 kk pengungsi ditampung disini. Mereka adalah korban pelecehan/kekerasan seksual, seperti pemerkosaan yang dilakukan aparat TNI Polri. Berasal dari kampung yang sama di Langsa, mereka adalah kaum perempuan yang suaminya diduga GAM. Mereka dipaksa menunjukkan dimana tempat suaminya bersembunyi. Dalam proses itulah mereka dianiaya. Dua dari mereka mengaku kedalam kemaluannya dimasukkan senter. Bagi mereka keputusan mengungsi / membuat pengaduan ke BP HAM Langsa adalah keputusan tidak akan pulang (untuk sementara) ke kampung/rumahnya, karena pulang berarti dihabisi.
LHOK NIBOENG – ACEH TIMUR
Pengungsi yang ada di Kamp ini umumnya berprofesi sebagai petani karet. Mereka berasal dari desa Alue Ie Mirah, Aceh Timur. Awalnya mereka mengungsi di desa pante Bayam. Teror-teror yang dilancarkan aparat TNI Polri membuat mereka beberapa kali berpindah sebelum akhirnya menetap cukup lama (21 bulan) di Lhok Niboeng, dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Mereka berlindung di los-los pasar dekat ke pembuangan sampah. Rata-rata anak-anak terkena penyakit gatal-gatal (bernanah). Pengungsi yang ada di Kamp ini awalnya berjumlah 115 KK. Tidak tahan, sebagian dari mereka memutuskan pindah ke kedareh Binjai. Sekarang yang tersisa 79 KK, mayoritas anak- anak dan orang tua. Tidak ada perhatian Pemerintah / Pemda atas keberadaan mereka. Berulangkali mereka telah mendatangi/menyurati/ meminta bantuan Camat dan Bupati Aceh Timur untuk dipulangkan kedesa masing – masing, hingga saat ini masih belum ditanggapi. Dilain pihak, Pos-pos TNI Polri yang terdapat disekitar Kamp melarang ketat bantuan masuk ke Kamp mereka. Upaya lain yang mereka lakukan adalah mencari bantuan sampai ke Medan, itupun jarang berhasil. Sikap umumnya pengungsi putus asa, pesimis dan selalu dibayangi rasa takut. Satu-satunya harapan mereka adalah pulang. Kembali melanjutkan kehidupannya sebagai petani karet tanpa harus merasa takut untuk ditangkap apalagi dibunuh.
DESA GEULEMPONG PAYOENG – ACEH TIMUR
Ada 76 KK pengungsi di wilayah ini, umumnya anak-anak dan manula. Pengungsi di Kamp ini adalah pengungsi yang rumah mereka dibakar aparat TNI Polri pada akhir era Orde Baru. Pada Era Habibi pemerintah sudah melakukan klarifikasi, dan berjanji akan mengembalikan mereka ke kampung mereka dan mengganti rumah-rumah mereka, setiap rumah 17 Juta Rupiah. Tetapi sampai hari ini janji itu tak kunjung ditepati. Mereka terus menunggu sambil secara alamiah dan bertahap membangun kehidupan sangat sederhana di wilayah dimana mereka sekarang tinggal, sambil tetap berharap Pemerintah mewujudkan janji memulangkah mereka.
GD GREBAK – ACEH TIMUR.
Wilayah ini diakui sebagai wilayah yang kental GAM. Kami tidak berhasil memasuki wilayah ini karena di pos-pos awal saja pemeriksaan sudah ketat. Petugas melarang keras kami memasuki wilayah apapun alasannya. Ada kesan kuat wilayah ini sengaja diisolasi. Sebenarnya ada tiga pintu untuk masuk ke wilayah ini, namun kesemuanya dijaga ekstra ketat. Dari laporan beberapa orang sekitar (dibenarkan beberapa LSM yang pernah melakukan peninjauan) di wilayah ini ada 300 KK lebih pengungsi yang kesemuanya korban dari alasan yang sama, yakni pelampiasan frustrasi aparat yang gagal menemukan GAM. Rumah-rumah mereka dibakar, dan itu terjadi pada awal dua minggu sebelum puasa 2002.
BANDA ACEH
Pengungsi berasal dari Km 60 Rimba Raya, Kecamatan Timbang Gajah, Kabupaten Aceh Tengah. Terjadi pertengahan 2001, diawali dengan pengambilan paksa para lelaki di kampung mereka oleh aparat TNI Polri untuk alasan yang tidak mereka ketahui. Pada saat mereka mengungsi laki-laki yang ada hanya yang berada dibawah usia 16 tahun, selebihnya adalah perempuan, anak-anak dan manula. Dulu di kampung mereka terjalin keakraban komunitas dari beragam etnis, Jawa, Medan, Minang, Gayo dan Aceh. Mereka yang sekarang mengungsi di Banda Aceh (59 KK) hanya sebagian kecil dari komunitas itu. Selebihnya terpencar di wilayah-wilayah lain, yang mereka tidak tahu persis. Kini desa mereka sudah rata serata tanah, dibakar aparat TNI Polri.
DESA LAMBADE, KEC PEKAN BADE – ACEH BESAR
Ada 80 KK pengungsi di desa ini. Sebagian besar pengungsi berasal dari desa Keuneeng Ajun, Aceh Besar, sebagian lainnya dari wilayah lain. Kondisi pengungsi sangat buruk. Kami tidak bisa memasuki Kamp ini karena pada saat yang sama diberitakan akan ada kontak senjata. Situasi di Kamp ini memang masih sangat rawan untuk dikunjungi. Penculikan dan terror hingga hari-hari ini masih terus berlangsung. Aparat dengan ketat mengisolasi Kamp, mengawasi setiap perhatian dan sumbangan yang masuk.
SEKTOR BARAT – SELATAN
Dari awal kami sudah diinformasikan bahwa perjalanan ke Sektor Barat Selatan lebih sulit dan lebih rawan. Itu artinya perjalanan ini akan jauh lebih mencekam. Belum lagi kami hanya punya waktu 24 jam dan sepakat kami tidak akan berhenti untuk istirahat/tidur. Tidur kami lakukan bergantian sepanjang perjalanan. Kami meninggalkan Banda Aceh setelah sahur, dengan perasaan yang galau. Lepas Banda Aceh, pemandangan pantai dan laut lepas yang terhampar indah sepanjang ratusan kilometer membuat hati semakin trenyuh. Bagaimanakah ciptaan Tuhan yang seindah itu ikut terbelenggu oleh konflik politik. tak dapat dengan leluasa dinikmati dengan kegembiraan bahkan oleh masyarakat setempat.
Kami tidak mengunjungi pengungsi di Aceh Barat karena keterbatasan waktu. Namun dengan kawan-kawan di Banda Aceh, kami sepakat, setelah kami meninggalkan Aceh, mereka akan mensuplai obat-obatan yang kami bawa ke wilayah Barat, berikut dokter. Kami juga tidak berhenti membantu pengungsi korban banjir, karena dari laporan yang kami dengar, berbeda dengan pengungsi korban konflik, pengungsi korban banjir cukup mendapat perhatian dari Pemerintah. Lagi-lagi pemndangan sepanjang lokasi banjir ini kembali mengingatkan saya pada keserakahan ‘penebangan hutan’ yang dilakukan kroni Cendana di era Orde Baru. Rumah-rumah yang hanyut dan sebagian besar hancur, penghuninya entah kemana sementara di Jl Cendana Jakarta, orang yang ikut /paling bertanggung jawab atas bencana/ kerusakan alam itu hidup dengan tenang, aman, tak sedikitpun diusik oleh penegakan hukum.
Berbeda dengan ketika kami mengelilingi Sektor Timur Utara, di sepanjang perjalanan sektor Barat Selatan ini, kami dihentikan petugas keamanan di sebagian besar pos-pos yang ada. Para petugasnya jauh lebih kasar (bukan disiplin). Kami dihadapkan pada berbagai model pendekatan yang dilancarkan yang seluruhnya jauh dari sopan apalagi professional. Bersuara keras, memaki, mengeluarkan nada suara yang mengancam sambil mengacung-acungkan senapan ke wajah kami seolah kebanggaan dan menjadi bagian utama dari tugas menjaga pos keamanan. Ini mungkin pengalaman pertama saya (dengan karakter saya yang asli) dituntut habis-habisan untuk bersabar. Sepanjang perjalanan saya terus merenungkan apakah sebenarnya yang salah dalam diri mereka ? Mereka diberangkatkan orangtuanya dengan kasih sayang, dibekali budi pekerti, dengan harapan dapat menjadi putra-putra pembela bangsa. Tapi apa yang saya saksikan, apa yang saya dengar dari masyarakat / korban tentang bagaimana mereka bisa dengan enteng dan pongah melecehkan kemanusiaan sungguh suatu yang menakutkan, memalukan sekaligus menyedihkan.
Conclution From TAPAK TUAN (North Aceh)

Berfoto dengan masyarakat Tapak Tuan, sebelum tiba-tiba seorang CUAK ( mata-mata hidung belang) muncul, dan masyarat setempat buru meminta kami pergi, setelah berdoa bersama.
Pengungsi
di wilayah ini terbagi di tiga desa antara lain, Desa Sawang (pinggir),
Desa Aju Sejahtera, dan Desa Panton Luas. Para Pengungsi menumpang di
rumah – rumah penduduk, karena aparat TNI Polri melatang mereka menginap
dimasjid- masjid, atau madrasah. Berawal dari pembakaran 84 buah rumah
di wilayah SAWANG yang terjadi pada minggu pertama bulan Ramadhan 2002,
sebanyak 578 KK penduduk meninggalkan desa mereka, mencari perlindungan
di Mesjid atau madrasah. Ketika ditanya siapakah yang melakukan
pembakaran itu, tidak satu orangpun berani membuka mulut. Tapi setelah
kami membujuk dan berusaha mengorek, mereka lalu menceritakan bagaimana
mereka diusir dengan kekerasan oleh aparat TNI Polri dari
mesjid/madrasah dimana mereka berlindung. Kaum perempuan dan anak-anak
diseret ke lapangan dan dijemur. Mereka dipaksa mendongak menatap terik
matahari. Plafon mesjid ditembaki aparat hingga hancur. Ketika satu
dua dari mereka menjadi lemas dan pingsan, aparat panik dan menembaki
langit, hingga sebuah peluru nyasar ke seorang anak berusia enam tahun,
dan mati. Seperti di tempat-tempat pengungsian lainnya, kami
membutuhkan sedikitnya setengah jam untuk membujuk pengungsi untuk
mendekat dan buka mulut. Trauma yang dalam membekas kuat diair muka
mereka. Di Tapak Tuan ini seorang bekas Lurah, pucat, tampak terus
menggigil dan ketakutan, tidak mampu membuka mulutnya. Ditengah kami
sedang berusaha membesarkan hati mereka, menjelaskan bagaimana cara
menggunakan obat yang kami bawa, seseorang menerobos, membisikkan
ketelinga saya, “Cuak”. Kami serempak berdiri. Suasana mendadak kaku,
dingin dan mencekam. Para Pak Kecik mendesak agar kami segera pergi.
Dan kami pergi. Kami meninggalkan para pengungsi itu dengan kecemasan
dan kesedihan luar biasa. Betul, pos pertama yang kami lalui setelah
Desa Sawang, dengan kasar berteriak-teriak menghentikan mobil kami.
Lebih dari 15 orang petugas mengerumuni mobil kami, menginterview satu
demi satu anggota rombongan, sementara sebagian lainnya dengan cermat
memeriksa setiap sudut mobil. Dalam hati saya terus berdoa, bukan
semata-mata untuk kami, tapi terutama untuk pengungsi yang baru saja
kami tinggalkan. Saya tidak akan sanggup memaafkan diri saya kalau
sampai oleh kehadiran kami disana, mereka, atau salah satu dari mereka
kembali mendapat siksaan.
SEPANJANG SUNGAI KLUEK – ACEH SELATAN
Di sepanjang sungai Kluek (utara dan selatan) Kab. Aceh Selatan ada sekitar 2600 Jiwa Pengungsi yang kini terisolasi dari berbagai bantuan. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak, perempuan dan manula. Mereka tidur dibawah pondok-pondik darurat dengan atap daun, tidur jiga beralaskan daun. Kesulitan makanan memaksa mereka memakan apa yang bisa dimakan di sekitar mereka berlindung, karena semua jalan yang menuju kedaerah ini ditutup oleh aparat. Kami tidak berhasil memasuki wilayah ini.
SEPANJANG SUNGAI KLUEK – ACEH SELATAN
Di sepanjang sungai Kluek (utara dan selatan) Kab. Aceh Selatan ada sekitar 2600 Jiwa Pengungsi yang kini terisolasi dari berbagai bantuan. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak, perempuan dan manula. Mereka tidur dibawah pondok-pondik darurat dengan atap daun, tidur jiga beralaskan daun. Kesulitan makanan memaksa mereka memakan apa yang bisa dimakan di sekitar mereka berlindung, karena semua jalan yang menuju kedaerah ini ditutup oleh aparat. Kami tidak berhasil memasuki wilayah ini.